Objek Cagar Budaya Kota Medan
Jelajahi 81+ cagar budaya bersejarah yang menjadi saksi perjalanan Kota Medan.
Menampilkan 81 objek
BangunanBank Mandiri (Eks Bank Exim)
Saat kamu berdiri di sudut Jalan Raden Saleh, tepat berhadapan dengan Balai Kota Medan, bangunan besar yang ada di depanmu ini bukan sekadar gedung perkantoran. Bangunan ini menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perdagangan, perbankan, dan perkembangan ekonomi kota Medan sejak masa kolonial Belanda. Gedung ini dulunya merupakan kantor Netherlandsche Handel Maatschappij atau NHM, sebuah perusahaan dagang Belanda yang awalnya menangani urusan ekspor di wilayah Hindia Belanda. Seiring waktu, NHM bertransformasi menjadi sebuah bank pada sekitar tahun 1860-an dan dikenal sebagai bank kedua yang didirikan di Indonesia pada masa kolonial Belanda, setelah berdiri di Indonesia sejak tahun 1824.
Lihat Detail
BangunanStasiun Kereta Api Medan
Jalur kereta api di Medan pertama kali dibangun oleh Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), sebuah perusahaan kereta api swasta, pada tahun 1883. Pembangunan ini dilakukan bersamaan dengan pengembangan jalur Medan–Belawan untuk mendukung pertumbuhan industri perkebunan di Pantai Timur Sumatra.
Lihat Detail
BangunanAsuransi Jasindo / Jakarta Lloyd
Bangunan ini menyimpan cerita tentang dunia pelayaran dan perkantoran yang pernah hidup di Kota Medan. Bangunan ini pertama kali dibangun sekitar awal tahun 1920-an dan berfungsi sebagai kantor “Stoomvaart Maatschappij Nederland (SMN)” atau “Netherlands Steamship Company”. Perusahaan pelayaran asal Belanda ini beroperasi dalam rentang waktu yang panjang, sejak tahun 1870 hingga 1970, dan menjalankan usahanya bersama kompetitor di bidang yang sama, yaitu Koninklijke Rotterdamsche Lloyd (KRL).
Lihat Detail
BangunanEks Kantor PTPN IX
Begitu kamu memperhatikan bangunan ini dari kejauhan, kesan megah dan tertib langsung terasa. Bangunan ini bukan sekadar kantor lama, melainkan titik penting dari lahirnya kota Medan sebagai pusat industri perkebunan. Setelah Deli Maatschappij resmi berdiri pada tahun 1869, para pionir perusahaan tembakau Deli memutuskan memindahkan kantor mereka dari kawasan Labuhan ke Medan Putri pada tahun 1870, tepatnya di dekat pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Pada masa awal, kantor Deli Maatschappij masih sangat sederhana, berupa bangunan panggung dari konstruksi kayu yang berdiri di atas tanah sewaan milik Sultan Deli.
Lihat Detail
BangunanEks Toko Seng Hap
Di titik ini, kamu sedang berhadapan dengan jejak awal budaya belanja modern di Kota Medan. Jauh sebelum Jalan Kesawan dikenal sebagai pusat niaga, bangunan inilah yang lebih dulu menjadi rujukan warga untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Gedung Seng Hap merupakan pusat perbelanjaan Cina pertama di Kota Medan, bahkan jauh sebelum dibukanya Jalan Kesawan. Pusat perbelanjaan ini didirikan oleh Tan Tang Ho pada tahun 1881 dengan bangunan berbahan kayu. Bangunan awal tersebut kemudian terbakar dan dibangun kembali dengan bangunan permanen yang masih berdiri hingga kini pada tahun 1900. Pada masanya, Seng Hap dikenal sebagai pusat perbelanjaan mewah dan sangat terkenal di wilayah pantai timur Sumatra.
Lihat Detail
BangunanEks Bank Modern
Begitu pandanganmu tertuju pada bangunan di sudut Jalan Ahmad Yani ini, kamu sedang berhadapan dengan salah satu saksi penting perjalanan ekonomi dan arsitektur modern awal di Kota Medan. Bangunan yang kini dikenal sebagai Eks Bank Modern ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan rekaman fisik dari masa ketika Medan tumbuh sebagai kota perdagangan dan industri perkebunan yang sangat strategis di Sumatra. Bangunan ini berdiri di Jalan Ahmad Yani No. 36, Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, pada sebuah persimpangan yang sejak lama menjadi pusat aktivitas ekonomi. Dibangun pada tahun 1929, bangunan ini berasal dari periode kolonial, dan sejak awal bersifat profane, digunakan untuk fungsi perkantoran.
Lihat Detail
BangunanRestoran Tip Top
Restoran Tip Top merupakan usaha keluarga yang dijalankan secara turun-temurun dan hingga kini telah dikelola oleh generasi ketiga. Pada awal berdirinya tahun 1929, restoran ini bernama 'Jang Kie' sesuai nama pemiliknya dan berlokasi di Jalan Pandu, dengan bangunan yang saat itu berfungsi sebagai kantor kongsi dagang Tionghoa. Pada masa tersebut, kawasan Kesawan dikenal sebagai pusat kegiatan bisnis Kota Medan.
Lihat Detail
BangunanEks Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Utara
Saat kamu menatap bangunan di Jalan Ahmad Yani No. 107 ini, mungkin kamu tidak langsung membayangkan deru mesin cetak atau aroma kertas baru. Padahal, gedung yang kini dikenal sebagai Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara ini pernah menjadi salah satu pusat penting dunia percetakan dan informasi di Kota Medan. Dahulu, bangunan ini dikenal sebagai Gedung Boekhandels Varekamp & Co, yang berfungsi sebagai gedung percetakan Harian De Sumatra Post sekaligus toko buku. Setelah melalui proses renovasi, gedung ini mulai digunakan kembali pada April 1922. Renovasi dikerjakan oleh firma Langereis & Co, sementara perancangan bangunan—baik eksterior maupun interior—ditangani oleh Broekema.
Lihat Detail
BangunanEks PT. Dharma Niaga
Saat kamu melangkah di depan bangunan ini, kesan sederhana yang tampak justru menyimpan cerita panjang tentang perdagangan, nasionalisasi, dan perubahan ekonomi di kota Medan. Bangunan ini menjadi saksi bagaimana sebuah toko kolonial bertransformasi menjadi kantor perusahaan negara. Pada awalnya, bangunan ini merupakan sebuah toko bernama Winkels Schueper. Memasuki tahun 1950-an, setelah proses nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia, bangunan ini kemudian difungsikan sebagai kantor PT Dharma Niaga. PT Dharma Niaga merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang didirikan pada era 1950-an dan berasal dari kelompok perusahaan besar peninggalan masa Hindia Belanda yang dikenal sebagai “The Big Five” atau “Lima Besar”.
Lihat Detail
BangunanFeng Huang (Eks KNI)
Bangunan ini sejak awal berdirinya bukan bangunan biasa, dan jelas bukan sekadar bangunan kantor kolonial. Bangunan yang kini dikenal sebagai Feng Huang (Eks Kantor Inspektorat Provinsi Sumatera Utara) pada mulanya berfungsi sebagai gedung majelis musyawarah para sultan Sumatera Timur. Di sinilah Sultan Deli, Sultan Langkat, Sultan Asahan, dan Sultan Serdang berkumpul dalam satu ruang, duduk sejajar sebagai penguasa tradisional, membahas urusan politik, sosial, dan masa depan wilayah Sumatera Timur. Fungsi awal ini menempatkan bangunan di Jalan Sukamulia No. 13, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, sebagai ruang politik tradisional yang sangat penting sebelum dan pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Lihat Detail
BangunanApotek Kimia Farma
Saat kamu berdiri di depan bangunan ini, mungkin yang pertama terlihat adalah warna biru pekat dan oranye yang cukup mencolok. Namun di balik tampilan modern tersebut, bangunan ini menyimpan cerita panjang tentang awal perkembangan industri farmasi di Indonesia, sekaligus jejak sejarah kota Medan sejak masa kolonial. Perjalanan bangunan ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kimia Farma, perusahaan industri farmasi pertama di Indonesia. Perusahaan ini didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1817 dengan nama awal NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. Nama Rathkamp inilah yang kemudian melekat pada apotek yang berdiri di kota Medan ini.
Lihat Detail
BangunanSekolah Badan Perguruan Nasrani 1 Medan
Dalam catatan sejarah pendidikan di Kota Medan, sekolah pertama yang didirikan Belanda adalah Inlandsche School Tweede Klasse pada tahun 1901, disusul Inlandsche School Eerste Klasse pada tahun 1912. Pada tahun 1915, sekolah tersebut berubah nama menjadi HIS (Hollands Inlandsche School) sebagai respons atas keinginan masyarakat Indonesia untuk memperoleh pendidikan ala Barat, yang pada awalnya ditujukan bagi kaum bangsawan sebelum akhirnya membuka peluang pendidikan yang lebih luas.
Lihat Detail



