Objek Cagar Budaya Kota Medan
Jelajahi 81+ cagar budaya bersejarah yang menjadi saksi perjalanan Kota Medan.
Menampilkan 81 objek
BangunanSekolah YPK Budi Murni
Sekolah ini merupakan cikal bakal jaringan Sekolah Budi Murni yang kini tersebar di berbagai wilayah di Sumatera Utara. Sekolah pertama kali didirikan pada tahun 1927 dengan nama HCS (Hollands Chineesche School) sebagai sekolah berbahasa Belanda, kemudian pada tahun 1931 berdiri sekolah lain dengan nama ECBS yang menggunakan bahasa pengantar Inggris.
Lihat Detail
BangunanSekolah Khalsa
Selamat datang di Sekolah Badan Perguruan Nasrani 1 Medan, bangunan bersejarah yang menjadi saksi perkembangan pendidikan dan sosial-budaya Kota Medan sejak era kolonial Belanda. Berlokasi di Jl. Teuku Umar No. 14, Petisah Tengah, Medan Petisah, Sumatera Utara, sekolah ini mencerminkan sejarah panjang komunitas India di kota ini. Bangunan berada pada koordinat 3°58’4496’’ LU dan 98°67’0611’’ BT dengan batas Jalan Kalingga (utara), Jalan Teuku Umar (timur), Jalan Raden Saleh (selatan), dan Jalan Pagaruyung (barat).
Lihat Detail
BangunanMasjid Ghaudiyah
Masjid Ghaudiyah merupakan salah satu bukti keharmonisan antar etnis dan umat beragama di Kota Medan. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Makmun Al Rasyid dengan biaya dari Tjong A Fie, seorang pengusaha Tionghoa terkemuka, di atas tanah wakaf milik Datuk Kesawan Haji Muhammad Ali.
Lihat Detail
Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel
Bangunan ini adalah Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel, sebuah gereja bersejarah yang berdiri di Jalan Diponegoro No. 25–27, Kota Medan. Sejak pertama kali kamu melihatnya, bangunan ini langsung menunjukkan karakternya sebagai tempat ibadah yang sakral, tenang, dan penuh jejak masa lalu. Dari bentuk luarnya, kamu bisa melihat atap pelana yang curam dengan lengkungan pada pintu dan jendela yang mengingatkan pada gaya Gothic. Area masuknya terasa seperti ditarik ke atas, membentuk sebuah menara yang kemudian diakhiri dengan kubah. Pada menara ini, terdapat empat buah jam yang dipasang di setiap sisinya. Meski saat ini jam-jam tersebut sudah tidak berfungsi, keberadaannya tetap menjadi ciri khas yang menonjol dari bangunan ini. Jika kamu memperhatikan bentuk atapnya lebih saksama, pemisahan atap gereja ini mengingatkan pada bentuk atap rumah tradisional Melayu dan Tapanuli Selatan. Perpaduan bentuk ini membuat bangunan gereja memiliki tampilan yang khas dan berbeda dibandingkan bangunan ibadah lain di sekitarnya.
Lihat Detail
BangunanGereja Katolik Kristus Raja
Bangunan ini berdiri menghadap persimpangan Jl. M.T. Haryono dan Jl. Merapi, tepat di kawasan Pusat Pasar, Kecamatan Medan Kota. Sejak pertama kali kamu memandangnya, kesan sakral langsung terasa kuat. Inilah Gereja Katolik Kristus Raja, sebuah bangunan cagar budaya yang telah resmi ditetapkan melalui SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021, dengan Nomor Dokumen 65/CB/B/2021. Gereja ini menjadi salah satu penanda penting perkembangan kehidupan religius Katolik di Kota Medan, khususnya bagi komunitas Tionghoa. Bangunan gereja ini berdiri di atas lahan yang berbatasan langsung dengan Jl. M.T. Haryono di sisi utara, Jl. Merapi di sisi timur, YPK Budi Murni Medan di sisi selatan, serta SMP Swasta Katolik Budi Murni 3 di sisi barat. Lokasinya yang strategis membuat gereja ini sejak awal terhubung erat dengan aktivitas pendidikan dan sosial di sekitarnya. Gereja ini bersifat sakral dan berfungsi sebagai rumah ibadah, dengan status kepemilikan dan pengelolaan berada di bawah Keuskupan Agung Medan.
Lihat Detail
BangunanGedung Keuangan Negara Medan
Bangunan ini adalah Gedung Keuangan Negara Medan, sebuah bangunan berlantai empat yang berdiri sebagai salah satu contoh penting arsitektur modern dengan pendekatan iklim tropis di Kota Medan. Fungsinya sebagai kantor pemerintahan menjadikannya bagian dari aktivitas administrasi keuangan negara, sekaligus penanda perubahan wajah arsitektur Indonesia setelah masa kemerdekaan. Secara arsitektural, gedung ini dirancang menggunakan konstruksi beton bertulang. Atapnya berupa plat beton, sementara permukaan beton pada banyak bagian dibiarkan terekspos tanpa plester. Pendekatan ini memperlihatkan karakter arsitektur yang tegas, jujur terhadap material, dan menonjolkan struktur sebagai elemen visual utama. Bentuk-bentuk geometris disusun secara berulang, dengan garis-garis horizontal yang sangat dominan dan memberi kesan kokoh sekaligus modern.
Lihat Detail
BangunanEks Villa Kembar (Kantor Administrasi & Security Hotel Adimulia)
Saat kamu berdiri di depan bangunan ini, kamu sedang melihat salah satu sisa paling awal dari kawasan hunian orang Eropa di Medan, jauh sebelum kawasan Polonia berkembang pesat pada akhir dekade 1910-an. Bangunan ini menjadi penanda awal perubahan wajah kota Medan dari permukiman tradisional menuju kota kolonial modern. Bangunan ini merupakan bagian dari perumahan awal untuk orang Eropa yang dibangun sebelum kawasan Polonia dikembangkan secara intensif. Hingga saat ini, informasi spesifik mengenai sejarah rumah ini pada masa Belanda belum diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan peta Kota Medan tahun 1913, terlihat bahwa pada masa itu terdapat lima unit rumah tinggal kembar yang berderet di sepanjang jalan yang kini dikenal sebagai Jalan Diponegoro, yang pada masa kolonial bernama Mangga Laan.
Lihat Detail
BangunanBangunan Eks Kantor Jacobson
Mungkin sulit membayangkan bahwa tempat ini pernah menjadi bagian dari jaringan bisnis raksasa yang menghubungkan Medan dengan pasar dunia. Namun justru dari gedung inilah roda perdagangan internasional pernah berputar dan ikut membentuk Medan sebagai kota niaga penting di Sumatera. Bangunan ini dibangun sebagai kantor pertama Jacobson van der Berg & Co. NV di Medan. Jacobson van der Berg & Co. NV merupakan perusahaan dagang asal Belanda yang didirikan pada tahun 1860, bergerak di bidang ekspor-impor, perdagangan, jasa asuransi, dan industri. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu anggota The Big Five, yaitu lima perusahaan raksasa milik Belanda bersama Internatio, Lindeteves, Borsumij, serta J. & Geo Wehry. Kelima perusahaan ini membentuk sebuah Trading House yang sangat kuat dan menguasai jaringan bisnis perdagangan, produksi, jasa, industri, serta distribusi di berbagai negara.
Lihat Detail
BangunanEks Gedung Nasional
Begitu kamu berada di gedung ini, kamu sedang berdiri di salah satu titik penting perjalanan kemerdekaan Indonesia di Kota Medan. Setelah proklamasi dikumandangkan, perjuangan belum berhenti. Justru di tempat inilah semangat perlawanan itu terus dijaga dan dikonsolidasikan. Di Kota Medan, pada bulan Oktober tahun 1945, area ini menjadi titik awal perjuangan para pejuang kemerdekaan yang kemudian dikenal sebagai pertempuran Medan Area. Pada masa-masa awal setelah kemerdekaan, berbagai pertemuan konsolidasi politik untuk melawan penjajah masih dilakukan di gedung bioskop. Namun, kondisi tersebut dianggap tidak aman karena pemilik gedung dinilai memiliki sikap bermuka dua.
Lihat Detail
BangunanBalai Laboratorium Bea dan Cukai Kelas II Medan
Bangunan ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah Pelabuhan Belawan sebagai pelabuhan samudera. Penetapan Pelabuhan Belawan sebagai pelabuhan samudera dilakukan dengan dua tujuan utama, yaitu untuk menampung aktivitas ekspor impor dan pelayaran yang semakin padat sehingga membutuhkan kawasan pelabuhan yang lebih luas, serta untuk menyaingi pelabuhan transit milik Inggris di Semenanjung Malaya seperti Penang dan Singapura. Bangunan ini pada awalnya diperuntukkan sebagai kantor baru bea cukai (douane kantoor) dan dibangun pada tahun 1938. Pembangunannya berkaitan erat dengan perluasan ketiga Pelabuhan Belawan ke arah utara yang telah dimulai sejak tahun 1927, setelah sebelumnya pelabuhan ini mengalami perluasan pada periode 1917 hingga 1921. Pada tahap perluasan tahun 1927 tersebut, kegiatan yang dilakukan meliputi penambahan dermaga, pembangunan pergudangan, serta penyediaan lapangan terbuka untuk penumpukan barang.
Lihat Detail
BangunanBank Mandiri Eks Bank Bumi Daya
Di persimpangan Jalan Balai Kota dan Jalan A. Yani VII ini, kamu sedang berhadapan dengan sebuah bangunan yang telah lama menjadi saksi perjalanan dunia perbankan di Kota Medan. Gedung ini dirancang oleh C.P. Wolfschoemaker, seorang arsitek terkenal pada masa kolonial Belanda, dan selesai dibangun pada tahun 1940. Pada awalnya, bangunan ini difungsikan sebagai kantor Nederlands Indische Handelsbank (NIHB), salah satu bank penting di Hindia Belanda, sekaligus kantor K.P.M. (Koninklijke Paketvaart Maatschappij), perusahaan perkapalan Belanda. NIHB sendiri telah berdiri di Kota Medan sejak tahun 1914. Sebelum menempati gedung ini, kantor NIHB bergabung dengan Stoomvaart Maatschappij Nederland dan berlokasi di sudut Jalan A. Yani (Kesawan) dan Jalan P. Pinang, yang kini dikenal sebagai Gedung Jasindo.
Lihat Detail
BangunanBalai Yasa Pulu Brayan
Balai Yasa adalah istilah yang cukup khas dalam dunia perkeretaapian Indonesia. Istilah ini digunakan untuk menyebut tempat perawatan besar sarana perkeretaapian dan tercantum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 Pasal 114 Ayat (5), yang menjelaskan bahwa perawatan kereta api dapat dilakukan di depot lokomotif maupun di balai yasa. Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1959, saat digunakan untuk Balai Yasa Yogyakarta. Dalam sistem perkeretaapian, balai yasa memiliki peran yang berbeda dengan depot lokomotif. Jika depot lokomotif menangani perawatan harian, enam bulanan, atau tahunan, maka balai yasa difokuskan pada perawatan besar. Secara kelembagaan, balai yasa juga tidak berada di bawah daerah operasi (Daop), melainkan langsung berada di bawah kantor pusat PT Kereta Api Indonesia. Balai Yasa tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, dan salah satunya adalah Balai Yasa Pulubrayan, yang dikenal sebagai balai yasa terbesar di Pulau Sumatera dan terletak di Jalan Pasar Pulo Brayan Bengkel, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, Sumatera Utara.
Lihat Detail
BangunanKantor Persatuan Daerah Pusat Pasar
Bangunan ini didesain dan dibangun sebagai satu kesatuan dengan penataan Pasar Sentral yang dibuka pada tahun 1933. Pada awalnya, bangunan ini berfungsi sebagai area peralihan antara kawasan pemukiman dan Pasar Sentral. Bangunan sudut ini memiliki bentuk bulat dengan tinggi sekitar 12 meter dan menggunakan konstruksi beton bertulang. Setahun setelah peresmiannya, bangunan ini difungsikan sebagai restoran bernama “De Rotonde” dan menjadi salah satu tempat makan siang favorit masyarakat Belanda pada masa kolonial. Setelah itu, bangunan ini kembali mengalami perubahan fungsi dan digunakan sebagai restoran dengan sajian masakan oriental. Pada masa pasca kemerdekaan, bangunan ini pernah digunakan sebagai kantor Djawatan Penerangan. Setelah Dinas Penerangan ditiadakan pada tahun 2001, bangunan ini kemudian beralih fungsi dan hingga kini digunakan sebagai Kantor Persatuan Daerah Pusat Pasar.
Lihat Detail
BangunanKantor Perusahaan Aneka Industri dan Jasa
Kantor Perusahaan Aneka Industri dan Jasa ini merupakan bekas toko N.V. Deli Courant. Surat kabar Deli Courant pertama kali diterbitkan pada tanggal 18 Maret 1885. Percetakan ini awalnya berupa sebuah bangunan kayu dengan lebar sekitar 5 meter dan panjang 25 meter yang berdiri di atas Hüttenbachstraat, yang kini dikenal sebagai Jalan Ahmad Yani VII. Deli Courant menjadi pelopor bagi surat kabar lain di wilayah ini, seperti Sumatra Post yang berdiri tiga belas tahun kemudian pada tahun 1898.
Lihat Detail
BangunanMuseum Perkebunan Indonesia
Gedung ini dulunya merupakan rumah Direktur Algemeen Proefstation der AVROS (APA). APA adalah stasiun penelitian dari AVROS (Algeemene Vereeniging van Rubber Planters ter Oostkust van Sumatera) yang berdiri sejak tahun 1910 dengan tujuan memajukan kepentingan perusahaan-perusahaan perkebunan karet dan kelapa sawit di Sumatera. Bangunan ini direncanakan pada tahun 1916 bersamaan dengan pembangunan stasiun pengujian APA yang kini dikenal sebagai Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dan terletak di seberang gedung ini. Perancangan dilakukan oleh arsitek Belanda G. H. Mulder, dan kompleks APA mulai ditempati pada tahun 1919.
Lihat Detail
